Menanam itu Ibadah : Catatan Kecil dari Hati Besar Abah Sahudi

Pagi ini dirasa lebih segar daripada pagi kemarin, saya menarik nafas dalam-dalam hingga penuh selongsong paru ini sambil tetap merebah badan ini di kasur yang disediakan Abah Sahudi si empunya rumah di ruang tamunya. Entah karena memang semalam hujan rintik telah merontokkan udara panas, atau mungkin saya bisa sukses terlelap dalam mimpi indah semalam sehingga jiwa raga saya segar dan siap mengarungi kerasnya hari ini nanti.

Badan tergerak untuk tegak seketika harum teh melati membelai hidung, rupanya teman saya dan tuan rumah sudah menyiapkan sajian pagi, ini sudah dilakukannya sejak kami menumpang di sini tanpa mengurangi kadar senyuman mereka. Ini juga yang menjadi pemicu semangat kami melakukan kegiatan studi karakteristik desa yang sudah kami jalankan lebih dari satu minggu.

Saya dan teman-teman sudah 3 hari menginap di sini, namun kami sudah seperti keluarga di rumah ini bahkan oleh warga desa di sini.  Rumah Abah Sahudi berada di sebuah desa yang dulu namanya diambil dari jenis tumbuhan yang tumbuh di tepi sungai Batanghari yaitu Rasau, namun karena penduduknya dari perantauan (Rantau) maka menjadi Rantau Rasau. Menurut saya desa ini fenomenal, karena merupakan wilayah transmigrasi pertama yang dibuka zaman orde lama tahun 1967, yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Tanpa terasa teh manis hangat dan sajian pisang goreng menguap dari piring diiringi canda tawa. Abah mendadak muncul dari tirai kamarnya, dengan senyuman khasnya dia mengajak kami ikut ke lapangan depan mesjid yang tidak jauh dari rumahnya.

Saya dan 2 teman pun beranjak, sementara sisanya yang lain membantu membereskan rumah. Begitu langkah kami baru melewati pintu, sudah terlihat banyak orang terutama ibu-ibu berkerumun dalam satu area yang sepertinya sudah dibuat pembatas dari kayu dan jaring. Sebelumnya memang kami sudah diberitahu akan ada kegiatan di Jum’at pagi ini.

Saya yang dahulu tidak pernah terlibat dalam kegiatan berkebun atau menanam tanaman bahkan dipekarangan sendiripun seperti digiring untuk suka bermain tanah dan tumbuhan. Seakan ada kekuatan magis yang membawa saya ke desa ini, begitupun sejak awal tiba di depan rumah Abah Sahudi, saya sudah terkesima karena rumah Abah dikelilingi tumbuhan tanaman pangan dan obat yang ia tanam dan rawat sendiri dibantu oleh anak nya. Abah Sahudi yang lahir 79 tahun yang lalu selain tokoh pionir dalam transmigran zaman Soekarno, sekarang lebih dikenal sebagai tokoh penggerak masyarakat desa agar gemar memanfaatkan lahan pekarangan khususnya utk tanaman sayur dan toga.

Keadaan sekitar rumah Abah Sahudi yang teduh dan rindang

Dari kegiatan  yang saya lakukan bersama teman-teman dari yayasan Mitra Aksi di sinilah saya mulai tergerak ingin sekali menanam. Abah selalu memperlihatkan ritualnya yang seakan selalu menebar keberkahan kepadanya ketika ia asyik bersama tanaman-tanamannya. Tak bosan-bosannya ia “berpetuah” mengisi dahaga penasaran kami tentang bercocok tanam hingga memanfaatkan hingga beramal lewat hasil panennya. Maka tidak heran dari aawal pertemuan hingga saya menulis tulisan ini ada pesan Abah yang selalu bernyanyi dalam telinga saya adalah “Setuju sekali kalau dibilang menanam itu ibadah.. cocook!”.

Dalam ajaran Islam yang saya anut memang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda tentang keutamaan menanam tanaman,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا‎ ‎أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ‏‎ ‎مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ‏‎ ‎بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ‏‎ ‎صَدَقَةٌ

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

Sosok Abah Sahudi yang selalu memberikan inspirasi

Selain memang ibadah merawat alam yang di ciptakan tuhan kepada kita, abah sering memberikan secara gratis hasil kebunnya kepada warga desa yang butuh dan datang meminta kepadanya, kata Abah, selain untuk warga sekitar tanaman ini juga dia pelihara untuk menjadi pemenuh kebutuhan untuk anak cucunya kelak.

Abah suka sedih jika mendengar petani sekarang lebih banyak membeli kebutuhan pangannya harus membeli dari pasar, apalagi hanya sekadar bawang, cabai dan sayuran.

“Namanya petani harus bisa menanam, jangan karena alasaan tidak punya lahan lalu tidak menanam!” seru Abah Sahudi di setiap petuahnya.

Walau lahan pekarangan abah bisa dibilang luas, namun ia juga mencontohkan menanam jika tidak ada lahan seperti memanfaatkan barang bekas sepertu plastik dan karung bekas yang diisi tanah dan pupuk, lalu ditanam berbagai tumbuhan seperti ubi, pepaya hingga strawberry, dan sudah menghasilkan buah yang cukup banyak.

“Jadi petani itu harus kreatif, tidak boleh manja dan selalu belajar!” petuahnya lagi.

Tidak pernah bosan mengajak orang lain khsusunya anak muda agar meluangkan waktu dan lahan untuk menanam

Dalam riuh riang suasana kegiatan menanam di lapangan depan mesjid bersama Abah Sahudi dan warga desa ini saya terpaku menikmati pemandangan ramah menentramkan hati, walau berpeluh dengan keringat bercampur tanah di kulit, jika dikerjakan dengan suka dan niat ibadah, maka tak ada lelah menindih jiwa.

Sosok Abah membuka mata dan pengetahuan saya untuk memberikan semangat dan ilmu yang bisa diwariskan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar hingga duniapun ikut menikmatinya. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam segala kegiatan, agar bisa memberi yang terbaik untuk mahluk hidup dan alam semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s