Menggugah Anak Muda untuk Menjadi Petani: Mungkinkah?

Pernahkah kita bertanya kepada anak-anak kita apa cita-citanya kelak jika tumbuh dewasa? Apa jawaban mereka? Sebagian besar pasti akan menjawab: Saya ingin menjadi pilot, Jadi dokter, Saya ingin jadi polisi, Saya ingin jadi menteri, Ingin jadi presiden dan harapan tinggi lainnya dari anak-anak. Tidak ada yang salah pastinya cita-cita setinggi langit, sebagai orang tua kita hanya bisa membimbing mereka belajar dan bekerja dengan baik dan mengajak merena sama-sama berdoa agar cita-citanya terkabul.

Namun yang hampir tidak pernah kita dengar anak-anak kita dengan lantang menyuarakan cita-citanya sebagai PETANI, anda setuju? Tidakkah ini hal yang membuat risau saya khususnya, karena kita hidup di negara agraris yang mayoritas penduduknya mengkonsumsi beras dan tanaman pangan lainnya.

Jujur saja apa yang ada dalam pikiran kita saat kita berbicara “petani”? Pasti anda sama pikirannya dengan saya, yaitu petani yang bekerja sangat keras, yang tiap hari memegang cangkul, dengan pakaian kumal dan sandal jepit bercampur lumpur, kulit hitam karena terbakar matahari dan punya penghasilan yang serba sedikit bahkan banyak hutang.

Inilah alasan yang sama kenapa generasi muda kita sekarang sudah “ogah” turun “ke sawah”, bahkan lulusan-lulusan sarjana-sarjana pertanian yang notabenenya kuliah di fakultas pertanian, tetapi ujung-ujungnya tetap melamar kerja pada perusahan atau perusahan swasta, dan kadang tidak ada hubungannya dengan gelar yang mereka dapat dengan susah payah di bangku kuliah mereka.

Jika kita melihat mayoritas tenaga kerja di sektor pertanian berpendidikan minim bahkan putus sekolah, ini yang menyebabkan proses penyerapan, adaptasi, inovasi, dan penemuan teknologi baru di sektor pertanian berjalan lambat. Jika saja banyak sarjana pertanian atau mungkin doktor-doktor terbaik di Indonesia mau “membumi” menjadi petani, sudah bisa dibayangkan k=tidak hanya kuantitas hasil pertanian yang meningkat, sudah pasti diiringi dengan kualitas dari hasil pertanian kita akan sangat baik. Otomatis ini akan bisa meningkatkan ekonomi petani, dan bukan hal yang tidak mungkin jika pendapatan petani meningkat, maka “petani” akan menjadi “cita-cita” penerus negeri ini.

Seperti yang sudah banyak dibahas oleh pakar pertanian, hal-hal ini memang menjadi salah satu faktor Indonesia sulit sekali kembali memperoleh swasembada pangan, selain masalah maraknya pengalihan fungsi lahan. Padahal Indonesia dulu pada tahun 1986 bisa mencapai swasembada pangan bahkan dapat bisa membantu mengirimkan pangan ke Ethiopia, salah satu negara di Benua Afrika yang saat itu tengah dilanda kelaparan.

Berdasarkan data sensus pertanian tahun 2013 diketa­hui, 61,8 persen petani berusia di atas 45 tahun dan hanya 12,2 persen saja yang berusia di bawah 35 tahun. Khusus untuk petani tanaman pangan sebanyak 47,57 persen berusia diatas 50 tahun. Dalam rentang 2003 hingga 2013, Sebanyak lima juta petani nasional meninggalkan profesinya, bahkan banyak kita jumpai juga anak petani yang tidak mau bertani. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, maka berkurangnya jumlah petani ini menghambat swasembada pangan.

Tidak menutup mata juga jika sudah ada upaya dari pemerintah untuk me”regenerasi” petani seperti dengan modernisasi pertanian di pedesaan, dengan upaya ini diharapkan anak-anak muda akan berminat menjadi petani. Memang modernisasi pertanian memang penting dan sangat dibutuhkan. tetapi, sepertinya belum menjawab keseluruhan persoalan yang membelit sektor pertanian kita yang sudah membentuk opini “jadi petani pasti miskin”.

Saat kegundahan akan masalah ini yang sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat, muncul tetesan harapan baru yang mulai memperlihatkan geliat anak muda menekuni pertanian. Jika kita rajin saya membuka dunia maya, ternyata sudah ada anak-anak muda berhasil menjalankan usaha pertanian yang membuat kita bersyukur dan berharap ada regenerasi pertanian kita di masa depan.

Sudah hampir setengah tahun saya melihat dengan mata saya sendiri di sini bersama teman-teman di Yayasan Mitra Aksi Jambi. Banyak anak muda yang menjadi fasilitator desa yang seakan menghilangkan kegundahan saya jika anak muda sudah tidak mau lagi bertani. Mereka selalu bersemangat belajar dan bekerja bersama petani walau harus bermandi lumpur dengan penuh senyum untuk meningkatkan usaha pertanian yang berselaras alam, dengan membudayakan pengolahan lahan ramah lingkungan dan membuat pupuk dan insektisida alami, agar terbebas dari ketergantungan pupuk dan insektisida instan yang biasanya didoninasi produk industri kimia.

Dengan mengusung moto “Menanam itu Ibadah” teman-teman Yayasan Mitra Aksi seraya ingin menunjukan kepada anak muda yang taat jika ibadah tidak selalu harus di lingkungan agamis, pengajian atau di rumah-rumah ibadah. Ibadah tidak cuma berbuat baik kepada sesama manusia, melainkan berbuat baik kepada lingkungan dan mahluk hidup lain hingga kita menjadi mahluk yang sempurna di mata tuhan.

“Tujuan akhir bertani bukanlah penanaman tanaman tetapi pengembangan dan penyempurnaan keadaan manusia”
– Masanobu Fukuoka | Japanese farmer/philosopher, and author of The One-Straw Revolution –

 

#Untuk teman kami “Suparno” yang sudah mendahului kami

Pijoan, Jambi
Ahmad Fauzi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s